Contoh Surat Terbaru

Pentingnya Sertifikat Pekerja Indonesia Menyambut MEA

Pentingnya Sertifikat Pekerja Indonesia Menyambut MEA  – Menjelang Pasar MEA yang akan berlaku 31 Desember 2015, Pemerintah Indonesia gencar gencar mensosialisasikan kepada masyarakat serta melakukan Sertifikat Pekerja Indonesia Menyambut MEA untuk MENGHADAPI persaingan pasar tenaga kerja Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Target Indonesia sendiri mengejar ketertinggalan dengan meningkatkan kualitas dari segi pendidikan, keterampilan dan standar kompetensi kerja yang direalisasikan dengan sertifikat profesi.

Seperti yang disampaikan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), diantara delapan-sembilan juta pekerja di bidang industri manufaktur seperti garmen, perakitan otomotif, elektronik serta tekstil masih tetap sangatlah minim yang telah bersertifikat. Itu belum termasuk juga semua angkatan kerja produktif di Indonesia yang jumlahnya pada 2015 meraih 117 juta jiwa.

Walau sebenarnya, ke depan persaingan pekerja antarnegara menuntut sertifikat profesi sebagai pembeda serta daya tawar kwalitas pekerja. Uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat profesi sangatlah utama dalam tingkatkan daya saing global, kwalitas pekerja yang memiliki sertifikat disadari serta terjamin, dan menguatkan kesempatan memperoleh pekerjaan.

Di bidang elektronik, kompetensi tenaga kerja Indonesia masih tetap kalah dibanding Malaysia, Thaliand, Philipina serta Singapura. Walau sebenarnya, bidang elektronik sangatlah menjanjikan serta tiga juta tenaga kerja bekerja di bidang ini baik juga sebagai perakit serta layanan servis.

Tak hanya itu saja Di bidang industri garmen SDM yang telah bersertifikat masih tetap 20 ribu orang. Sedikitnya sertifikat profesi tunjukkan seperti apa kesiapan Indonesia hadapi MEA per akhir Desember 2015, walau sebenarnya profesi pekerja dirumah (pembantu, tukang kebun serta sejenisnya) pasti akan disertifikasi.

Seperti yang dikatan oleh Kepala Badan Sertifikasi Nasional Profesi, Sumarna F Abdrurrahman, tujuh pekerjaan akan diselenggarakan uji kompetensi untuk mendapatklan sertifikat kerja, yakni pembantu rumah tangga, koki, perawat anak, pengasuh anak, perawat kebun, pengemudi (sopir) serta penjaga anak.

Untuk pekerja konstruksi, 400 ribu tukang diproyeksikan bakal disertifikasi lewat uji pertandingan tukang bangunan umum. Sekarang ini, diantara 7, 3 juta pekerja konstruksi Indonesia cuma 6, 55% yang telah memiliki sertifikat kompetensi. Pada akhir 2015, diprediksikan 6, 55% terdiri 124. 864 pekerja pakar serta 353. 425 pekerja trampil dari 7, 3 juta pekerja makin bertambah jumlahnya yang disertifikasi, lantaran pasar Indonesia sangatlah besar hingga sangatlah ironis apabila nanti pekerja lokal kalah berkompetisi dengan pekerja dari negara tetangga.

Tujuan Kementerian Pekerjaan Umum serta Perumahan Rakyat (PUPR) tingkatkan jumlah pekerja bersertifikat satu juta pekerja pada 2019 sesungguhnya adalah angka sangatlah rendah. Dari 7, 3 juta pekerja harusnya yang telah bersertifikat pada 2019 meraih tujuh juta pekerja, lantaran dalam durasi empat th. mulai sejak 2015. Demikian juga pada bidang-sektor lain seperti garmen, tekstil, elektronik, otomotif, manufaktur, perdagangan

Terkecuali permasalahan sertifikat, masalah lain yang mengganjal yaitu latar belakang pendidikan tenaga kerja Indonesia. Dari 117 juta tenaga kerja produktif Indonesia pada 2015 sejumlah 65 juta orang atau 47% tamatan SD, 20, 5 juta orang atau 18% lulusan SMP, 2, 9 juta atau 2, 64% lulusan diploma serta 8, 1 juta orang atau 6, 83% sarjana. Komposisi itu tunjukkan sejauh mana kwalitas tenaga kerja Indonesia. Walau bisa diatasi dengan kursus serta pendidikan singkat (diklat) yang mempertajam ketrampilan pekerja, tetapi beberapa besar dengan latar pendidikan rendah cuma berpeluang pada bidang pekerjaan menengah ke bawah.

Fakta melakukan perbaikan kwalitas pekerja dalam negeri tak dapat dielakkan lagi. Indonesia telah meliberalisasi banyak bidang terlebih industri layanan sampai 70% di 120 subsektor merujuk pada ASEAN Frame-work Agreement on Service (AFAS). Belum lagi dalam lingkup hubungan kerja MEA, ASEAN-China Free Trade, Trans Pacific Partnership (TPP), APEC dan sebagainya. Tak dapat lagi enjoy serta berasumsi mudah tantangan yang ada, lantaran bila tak bersiap dari saat ini jadi pekerja dalam negeri cuma kebagian remah-remah, bidang informal serta pekerjaan kasar.

Jadi bisa diambil kesimpulan, sertifikasi pekerja Indonesia sangatlah utama untuk mendongkrak kwalitas, kompetensi serta daya saing berskala global supaya dapat berkompetisi dengan tenaga kerja luar negeri yang akan membanjiri tempat kerja di negeri ini.

Bila profesionalisme serta kwalitas tenaga kerja negeri ini kalah jauh dari tenaga kerja negara tetangga, bukanlah tidak mungkin perusahaan-perusahaan serta investor luar negeri lebih pilih tenaga kerja luar negeri yang lebih berkwalitas serta terjamin. Mudah-mudahan pemerintah serta kementerian berkenaan selekasnya mewujudkan uji kompetensi pekerja untuk tingkatkan mutu, profesionalisme hingga sejajar dengan tenaga kerja asing.

Pencarian Paling Populer :

Pentingnya Sertifikat Pekerja Indonesia Menyambut MEA | admin | 4.5
/* */